Bagaimana pendapat antum tentang isi blog ini ?

Jumat, 23 November 2012

JAWABAN TERHADAP MEREKA YANG MAU KELUAR DARI AHLUS SUNNAH KARENA ADANYA PERPECAHAN ANTARA AHLUS SUNNAH [SEBUAH PELAJARAN DARI KISAH NYATA]


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah membimbing para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah untuk dapat mengetahui diantara sebab jauhnya manusia dari kebenaran dan semakin tersebarnya kebatilan adalah karena adanya perpecahan diantara Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dan hal itu diperparah dengan keberadaan pihak-pihak tertentu yang memang sengaja memicu, mengobarkan dan merawat perpecahan tersebut. Inilah beberapa peringatan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah di masa ini:

Syaikhunasy Syaikh Al-’Allamah Robi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata,
 ونشأ أناس لا يفهمون السلفية على وجهها يزعم أحدهم أنه سلفي ثم لا تراه إلا وهو يقطع أوصال السلفية لسوء سلوكه وسوء المنهج أو المناهج السيئة التي انتشرت وتهدف إلى تفريق السلفيين وتمزيقهم
السلفية تحتاج إلى عقلاء تحتاج إلى رحماء تحتاج إلى حكماء تحتاج قبل ذلك إلى علماء فإذا كانت هذه الأمور ليست موجودة في السلفيين فأين تكون السلفية ؟ تضيع بارك الله فيكم
“Dan telah muncul (di tengah-tengah Salafiyin), orang-orang yang tidak memahami Salafiyah secara hakiki, tetapi setiap mereka menyangka bahwa ia seorang Salafi, kemudian engkau tidak melihatnya kecuali ia selalu memutuskan hubungan antara Salafiyin, karena kejelekan akhlaknya dan kejelekan manhajnya atau tersebarnya manhaj-manhaj yang jelek untuk memecah belah dan mencerai-beraikan Salafiyin.

Salafiyah membutuhkan orang-orang yang berakal, penyayang, memiliki hikmah, dan yang lebih penting, membutuhkan para ulama. Maka apabila perkara-perkara ini tidak ada di tengah-tengah Salafiyin, AKAN KE MANAKAH SALAFIYAH? AKAN HILANG. Semoga Allah ta’ala memberkahi kalian. [Transkrip Nasihat: Jagalah Persatuan dengan Akhlak Mulia]

Syaikhunasy Syaikh Shalih bin Sa’ad As-Suhaimi hafizhahullah berkata,
“Apa yang mereka lakukan ini telah mengakibatkan munculnya perkara yang sangat berbahaya dalam barisan umat yang satu; dalam barisan para pengikut manhaj yang satu:
  1. Mengakibatkan kepada saling dengki antara Ahlus Sunnah
  2. MENGAKIBATKAN TERHALANGNYA MANUSIA DARI DAKWAH AHLUS SUNNAH.
  3. Mengakibatkan jeleknya nama baik manhaj Salafi
  4. Mengakibatkan celaan dan hinaan terhadap sebagian orang-orang yang berlimu, yang memiliki jasa besar dalam berkhidmah terhadap As-Sunnah An-Nabawiyah
  5. Mengakibatkan perselisihan yang besar.
Dan jika engkau tanyakan tentang hakikat permasalahan yang sebenarnya maka tidaklah engkau dapati kecuali kegaduhan seperti penggilingan yang berputar, burung yang berkicau, omongan kosong dan sedikitnya rasa malu dari orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu, yang menyibukkan diri dalam memecah belah antara manusia.” [Transkrip Nasihat: Sebab-sebab Perpecahan Antara Ahlus Sunnah]

 Asy-Syaikh Muhammad bin Abdullah Al-Imam hafizhahullah berkata,
“Kecemburuan terhadap Islam tidaklah akan terealisasi dengan benar kecuali dengan kecemburuan terhadap para da’i pembawa Islam, sebab Islam tidak akan mungkin dikenal kecuali dengan para da’i tersebut. Maka membicarakan kejelekan para da’i tersebut menafikan kecemburuan yang benar.

Dan diantara prinsip Ahlus Sunnah adalah tidak mencela para sahabat dikarenakan adanya rekomendasi dari Allah dan Rasul-Nya untuk mereka. Demikian pula membicarakan kejelekan orang-orang yang berilmu, yang dikenal dengan kejujurannya pada umat, ketakwaannya dan ittiba’nya kepada minhaj nubuwwah.
Sesungguhnya Allah ta’ala telah men-ta’dil mereka secara umum, dan Allah jadikan mereka sebagai perantara untuk menyampaikan kebenaran dari-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Dan Allah ta’ala menjadikan mereka sebagai hujjah atas manusia. Maka orang yang mencela mereka tidaklah dapat dikatakan sebagai orang yang cemburu terhadap Islam.

Bahkan yang pantas dikatakan kepadanya, bahwa sesungguhnya dengan celaannya kepada orang-orang yang berilmu maka dia telah mengundang peperangan Allah terhadap dirinya. Allah ta’ala berfirman dalam hadits qudsi,
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan perang terhadapnya.” (HR. Al-Bukhari, no. 6502)

Dan juga, MENCELA ORANG-ORANG YANG BERILMU BERARTI MEMBUKA PINTU UNTUK TIDAK DITERIMANYA ILMU MEREKA OLEH UMAT, DAN UMAT PUN TIDAK MERUJUK KEPADA MERAKA. Maka yang terjadi, kebatilan akan mendominasi kebenaran, tersebarlah hal itu di tengah-tengah kaum muslimin, sehingga ahlul bid’ah pun semakin bebas menyebarkan kesesatannya.

Demikian pula, mencela kehormatan orang-orang yang berilmu terhadap sunnah adalah salah satu tanda besar dari tanda-tanda ahlul bid’ah dan hizbiyah. Maka barangsiapa yang menjatuhkan kehormatan orang-orang yang zhohirnya sunnah, minimalnya dia adalah orang yang menyerupai ahlul bid’ah dan hizbiyah.” [Al-Ibanah, hal. 160]

Subhaanallah, peringatan para ulama Ahlus Sunnah di atas, benar-benar telah kami saksikan dalam kehidupan nyata dalam beberapa kejadian baru-baru ini:

Pertama: Terjadi perselisihan salah seorang Ikhwan dengan Ustadznya, lalu si Ikhwan ini menceritakan (baca: ghibah) sebagian permasalahan tersebut kepada beberapa orang awam yang baru ngaji, yang sedang dibimbing oleh Ustadz tersebut. Pada akhirnya diantara mereka sudah berniat untuk keluar dari Salafi dan tidak mau lagi mengikuti kegiatan-kegiatan ta’lim ataupun menerima nasihat yang disampaikan oleh Ustadz tersebut.

Kedua: Seorang Ikhwan yang baru ngaji mengadukan kepada kami, bahwa istri beliau yang sedang didakwahi agar meninggalkan syirik dan bid’ahnya, serta menggunakan jilbab yang syar’i, ketika istrinya tersebut sudah mulai mengikuti ta’lim dan belajar menggunakan jilbab syar’i tiba-tiba kendor semangat belajarnya dan melepas jilbab syar’inya karena melihat adanya perpecahan antara sesama Ahlus Sunnah.

Ketiga: Bisikan-bisikan setan di hati kami, ketika dulu kami masih awam, kemudian terjerat ke dalam kelompok-kelompok hizbiyah, betapa indahnya ukhuwah, persatuan dan kebersamaan ketika itu, namun sayang di atas kesesatan.

Solusi permasalahan ini insya Allah ta’ala bisa diselesaikan dari dua sisi:

Pertama, dari sisi nasihat kepada Ahlus Sunnah untuk bersatu, kalaupun ada perpecahan hendaklah ditutup rapat-rapat dari mad’u (orang yang didakwahi), apalagi orang-orang awam. Walhamdulillah telah banyak nasihat-nasihat para ulama akan hal ini, meskipun di lapangan kita menyaksikan, masih banyak yang tidak peduli dengan adanya nasihat-nasihat tesebut.

Masih banyak yang sok berilmu, melangkahi para ulama, namun anehnya banyak juga pendukungnya dari kalangan orang-orang yang jahil, ketika dia mengeluarkan tulisan para pendukungnya pun segera menyebarkannya, dengan dalih nasihat terhadap orang-orang yang telah menyimpang, padahal tuduhan-tuduhan menyimpang itu hanyalah berasal dari kebodohan mereka.

Kedua, bagaimana kita menjawab dan menasihati orang-orang yang ingin lari dari dakwah Ahlus Sunnah bahkan meninggalkan sejumlah kewajiban dengan alasan karena Salafi berakhlak jelek, berpecah belah antara mereka?

Jawaban Pertama:

Benar bahwa perpecahan di antara Ahlus Sunnah sangat tercela, akan tetapi jika dilihat dari sisi lain, bisa jadi adanya perpecahan tersebut merupakan bukti kebenaran manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Sebab setan tidak mampu lagi mengajak Ahlus Sunnah untuk menyekutukan Allah ta’ala, terlalu sulit bagi setan untuk mengajak mereka melakukan bid’ah, teramat susah insya Allah ta’ala bagi setan untuk mengajak mereka berbuat maksiat, maka jalan yang paling mudah bagi setan adalah memecah belah mereka. Hal ini diisyaratkan dalam sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِى جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِى التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah (kaum muslimin) yang sholat di Jazirah Arab, akan tetapi dia belum putus asa untuk memecah belah di antara mereka.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]

Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata,
والتحريش الإغراء والمعنى أنه يجتهد في إفساد ما بينهم من التواصل ليقع التباغض
At-Tahrisy (memecah belah) adalah memanas-manasi, maknanya adalah, setan berusaha sekuatnya untuk merusak hubungan antara kaum muslimin sehingga mereka saling membenci.” [Kasyful Musykil min Hadits Ash-Shahihain, 1/752]

Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,
وَمَعْنَاهُ : أَيِس أَنْ يَعْبُدهُ أَهْل جَزِيرَة الْعَرَب ، وَلَكِنَّهُ سَعَى فِي التَّحْرِيش بَيْنهمْ بِالْخُصُومَاتِ وَالشَّحْنَاء وَالْحُرُوب وَالْفِتَن وَنَحْوهَا
“Dan maknanya, setan telah putus asa untuk disembah penduduk (muslim) Jazirah Arab, akan tetapi dia tetap berusaha memecah belah kaum muslimin dengan permusuhan, kebencian, peperangan, fitnah, dan semisalnya.” [Syarah Muslim, 17/156]

Jawaban Kedua:

Manhaj Salaf yang kita ikuti adalah manhaj yang haq, yang tidak mungkin salah, sebab ia adalah ajaran Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam, adapun pengikutnya mungkin benar dan mungkin salah. Allah ta’ala berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
Ayat yang mulia ini menunjukkan dengan jelas kewajiban mengikuti Salaf, sebab generasi Salaf adalah generasi yang telah diridhoi Allah Ta’ala, maka jika kita menginginkan keridhoaan Allah, haruslah mengikuti jejak mereka. Demikian pula dalam ayat ini dikabarkan bahwa orang-orang yang mengikuti Salaf dengan baik (ihsan) mereka juga akan mendapatkan keridhoaan Allah, dan hal ini berlaku sampai akhir zaman.  

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata,
ومعنى الذين اتبعوهم بإحسان : الذين اتبعوا السابقين الأولين من المهاجرين والأنصار وهم المتأخرون عنهم من الصحابة فمن بعدهم إلى يوم القيامة
“Makna “Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,” adalah orang-orang yang mengikuti As-Sabiqunal Awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshor, dan mereka adalah sahabat-sahabat yang akhir dan generasi setelah mereka sampai hari kiamat.” [Fathul Qodir,2/577]

Maka yang kita ikuti adalah generasi Salaf secara keseluruhan yang ajarannya sudah pasti benar, sedangkan individu-individu yang mengikuti Salaf mungkin berbuat benar dan mungkin berbuat salah, karena dia adalah manusia biasa yang tidak mungkin selamat dari dosa, sehingga jika dia melakukan kesalahan maka yang disalahkan adalah orangnya bukan manhajnya, sebagaimana para teroris yang membunuh secara serampangan atas nama jihad maka yang disalahkan adalah orangnya bukan ajaran jihad dalam Islam ataupun agama Islam itu sendiri.

Oleh karena itu hendaklah kita mengikuti manhaj Salaf ini ikhlas karena Allah ta’ala, bukan karena manusia. Terlebih manusia yang kita ikuti masih hidup, meskipun seorang Ustadz atau Ulama, tetap saja tidak aman dari fitnah. Sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata,
أَلاَ لاَ يُقَلِّدَنَّ رَجُلٌ رَجُلاً دِينَهُ فَإِنْ آمَنَ آمَنَ وَإِنْ كَفَرَ كَفَرَ فَإِنْ كَانَ مُقَلِّدًا لاَ مَحَالَةَ فَلْيُقَلِّدِ الْمَيِّتَ وَيَتْرُكِ الْحَىَّ فَإِنَّ الْحَىَّ لاَ تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ
“Janganlah seseorang taklid kepada yang lainnya dalam beragama, jika yang diikutinya beriman ia pun beriman, jika yang diikutinya kafir ia pun ikut kafir. Jika ia harus taklid maka hendaklah ia taklid kepada orang yang telah mati dan meninggalkan orang yang hidup, karena sesungguhnya orang yang hidup itu tidak aman dari fitnah.” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro: 20846]

Beliau radhiyallahu’anhu juga berpesan,
من كان منكم متأسيا فليتأسى بأصحاب رسول الله فإنهم كانوا أبر هذه الأمة قلوبا وأعمقها علما وأقلها تكلفا وأقومها هديا وأحسنها حالا قوم اختارهم الله لصحبة نبيه وإقامة دينه فاعرفوا لهم فضلهم واتبعوهم في آثارهم فإنهم كانوا على الهدى المستقيم
“Barangsiapa diantara kalian yang mau meneladani maka hendaklah meneladani sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, karena mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit membebani diri, paling lurus petunjuknya dan paling bagus keadaannya. Mereka adalah satu kaum yang Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas jalan yang lurus.” [Dzammut Ta’wil, hal. 32 no. 62]

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

http://nasihatonline.wordpress.com/2012/11/18/jawaban-terhadap-mereka-yang-mau-keluar-dari-ahlus-sunnah-karena-adanya-perpecahan-antara-ahlus-sunnah-sebuah-pelajaran-dari-kisah-nyata/

Rabu, 21 November 2012

Bulan Muharam dan Puasa Pada Hari Asyura


 

Bulan Muharam merupakan bulan yang mulia dalam islam dan salah satu dari bulan haram yang empat, yaitu Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab sebagaimana Allah Subhaanahu wata’ala berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Qs. At-Taubah : 36)

Namun sangat disayangkan sebagaian kaum  muslimin melakukan perkara-perkara yang tidak diajarkan dalam agama kita yang terkait dengan bulan Muharram, seperti mengerjakan/mengkhususkan shalat khusus pada hari itu, dan amalan-amalan yang tidak benar lainnya.

Sabtu, 17 November 2012

Download Dauroh Bojonegoro “Hukum Pergaulan Suami Istri” Bersama Al-Ustadz Abu Nashim Mukhtar ‘Iben’ Rifa’i Lafirlaz



Download rekaman Dauroh Bojonegoro “Hukum Pergaulan Suami Istri: Hak-Hak Suami kepada Istri, Hak-Hak Istri kepada Suami, serta Hukum-Hukum Ta’addud” bersama Al-Ustadz Abu Nashim Mukhtar -hafizhahullaah- (pengajar Ma’had Darussalaf, Sukoharjo) pada hari Ahad, 11 November 2012.



No Nama Kajian Ukuran (MB)
1
Sesi 1
18
2
Sesi 2
9.5


sumber: http://rizkytulus.wordpress.com/

Tabligh Akbar “Kecintaan Kepada Ahlul Bait: Antara Sunni dan Syiah” – Makassar ( 22 November 2012)



Dengan Mengharap Ridha Allah Ta’ala,

Hadirilah …

Tabligh Akbar
“Kecintaan Kepada Ahlul Bait: Antara Sunni dan Syiah”

Pemateri:
Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi
(Pembina Pondok Pesantren As-Sunnah Makassar)

Insya Allah pada Kamis,
8 Muharram 1434 / 22 November 2012
Pkl. 12.30 – 15.00 WITA

di Masjid Al-Markaz Al-Islami Jend. M. Jusuf Makassar
Jl. Masjid Raya No. 57 Makassar

Disiarkan Langsung di:
dzulqarnain.net dan an-nashihah.com

Info:
0853 4289 2773
Terbuka untuk Umum, Muslim dan Muslimah



Para Penulis Aloloom Adalah Pendusta


Para Penulis di Situs Aloloom

Orang-orang Dungu dan Pendusta

(Asy Syaikh Al-’Allamah Al-Mujahid Muhammad bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah)

Pengantar

Berikut adalah arsip salinan SMS yang menjadi bukti kejahatan (orang-orang yang terfitnah Syaikh Yahya Al Hajuri) terhadap para ulama Ahlussunnah yang disebarkan oleh fattan RA Media Hasan Ngawi/Magetan (mereka melakukan propaganda pemikirannya dengan penyebaran melalui e-mail kebesarannya (bani_hsn@yahoo.com), mujahirin yang saat ini dibela-bela tanpa rasa malu -walau telah kadaluarsa- secara serampangan dan membabi buta oleh facebooker Hanan Bahanan hadahullah- akan ada jawabannya Insya Allah). Ya, facebooker Hanan Bahanan hadahullah telah berterus terang kepada kita semua di mana dia letakkan ulfahnya, maka inilah sebagian jawaban atas jenis-jenis orang yang dia telah meletakkan wala’ dan pembelaannya, yaitu orang-orang yang telah memerangi para ulama kita:

“Sms dr abu fairuz dammaj=”Sy Yahya tlh habisi muh bn hadi.hujan malzamah jg hantam m b hadi dr sy muh amudi, muh suwari (dmj), sy muh mani’(son’a), sy hasan b qosim (ta’iz), ahmad uqbari (madinah). muh b hadi jg bolehkan pemilu. Dia dihantam oleh muh suwari dg malzamah baru. dia hingga tak sanggup bela diri. bgt pula sy robi’.Allohu yahdihima” (Dari hasan ngawi diterima: 04/10/2011 05:33)

Inilah jawaban tegas dan jelas dari Asy Syaikh Muhammad bin Hadi hafizhahullah terhadap fitnah dan berbagai macam isyu atas beliau yang disebarluaskan baik melalui media internet maupun SMS terkait fitnah Yaman:

Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah Ta’ala ditanya ketika bertemu dengan murid-murid beliau di kota Riyadh pada malam Kamis tanggal 29 Dzul Qa’dah 1432 H:

Penanya:

Demi Allah dengarkanlah wahai saudara-saudaraku, dengarkanlah! Penanya bertanya: “Fadhilatusy Syaikh, semoga Allah memberikan kebaikan kepada Anda. Anda menyebut-nyebut para tokoh dakwah pada masa ini, seperti Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, Al-Albani. Namun Anda tidak menyebutkan Asy-Syaikh Muqbil Al-Wadi’i rahimahullah. Penanya di sini tidak mengatakan rahimahullah. Dan saya katakan rahimahullahu jami’an (semoga Allah merahmati mereka semua), bukankah Asy-Syaikh Muqbil adalah orang yang memiliki keutamaan setelah Allah dalam tersebarnya As-Sunnah di Yaman?”

Jawaban:

Hanan Bahanan Overload Bag.3


(Cukup) Sekali Lagi Tentang Fatwa Karma “Islami”

Dalam Sangkar Pembelaan Facebooker Hanan Bahanan

(Wajibnya Membantah Kebatilannya)


Sebenarnyalah, bagi orang-orang yang jujur, berakal dan mengharapkan kebaikan, telah lebih dari cukup bukti-bukti dan referensi yang ditampilkan dalam tulisan-tulisan yang terkait hukum karma:


Sehingga berkesimpulan kokoh tak tergoncangkan bahwa ISLAM, AL QUR’AN DAN AS-SUNNAH AN NABAWIYAH  TIDAK BISA DIKAITKAN (DARI CELAH SESEMPIT APAPUN, DARI ARAH MANAPUN, DENGAN  TRIK APAPUN) DENGAN HUKUM KARMA, LA MIN QARIB WALA MIN BA’ID, TIDAK DARI DEKAT DAN TIDAK PULA DARI JAUH.

Hanya saja, kenyataan sangat memprihatinkan yang harus kita saksikan dan dengarkan (dengan munculnya makalah yang menggugat keras ADANYA HUKUM KARMA DI DALAM ISLAM DENGAN DALIL AYAT DAN HADITS YANG DICOMOTNYA, seindah apapun dia -menipu dan membodohi kaum muslimin- dengan membungkus makna karma agar nampak Islami, sadar ataupun tidak) menimbulkan reaksi tak sehat, kalap, jauh dari sikap ilmiyah dan cenderung frustasi semisal ucapan KENAPA USTADZ DZULQARNAIN TIDAK DIKAFIRKAN SEKALIAN?!

Subhanallah! Apakah mereka ini telah sedemikian parah pemahamannya sehingga sampai mengira bahwa tujuan membantah pernyataan batil bahwa ada ayat dan hadits yang membenarkan adanya hukum karma adalah agar para pembaca BISA MENGKAFIRKAN AL USTADZ DZULQARNAIN?! Wallahul musta’an.

Apakah mereka separah ini pula dalam memahami bahwa mengembalikan definisi karma ke dalam kamus bahasa Indonesia, ke dalam pengertian agama Hindu, Budha dan Jain (selaku pemilik sah aqidah tersebut) dan definisi karma yang telah dijelaskan dan diuraikan kebatilannya oleh para ulama adalah untuk membuktikan bahwa Al Ustadz Dzulqarnain benar-benar sepenuhnya meyakini Karma sebagaimana yang diyakini orang-orang kafir tersebut agar pembaca dapat mengkafirkan beliau?! Wal’iyadzubillah.

Kedudukan Dakwah dan Kebutuhan Manusia Terhadapnya



Dakwah mengajak manusia kepada Allah Subhanahuwata’ala dapat bermakna, menghimbau manusia melaksanakan apa yang Allah Ta’ala perintahkan dan meninggalkan apa yang dilarangNya. Allah Ta’ala berfirman :
 …أُولَٰئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ…
“… Mereka mengajak neraka, sedang Allah mengajak ke surga..” ( Al Baqarah : 221)
Maksudnya mengajak, menghimbau, dan memerintahkan. Dan Allah Ta’ala berfirman menerangkan tentang seorang mukmin dari pengikut- pengikut Fir’aun :
وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ
“ Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru ke neraka?”(Ghafir : 41)

Dengan demikian makna dakwah secara syar’i adalah seruan atau himbauan untuk menjalankan perintah Allah baik ucapan maupun perbuatan dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Dakwah mengajak manusia kepada Allah artinya memerintahkan dan menghimbau manusia untuk menjalankan semua perintah Allah, berupa seruan untuk beriman kepada Allah dan semua yang di bawa oleh Rasul-Nya. Dan ini meliputi ajaran agama seluruhnya. Oleh sebab itu, kata dakwah dalam Al Quran datang dengan sifat dialog dan panggilan ( himbauan) misalnya dalam lafaz – lafaz berikut :
أَيُّهَا النَّاسُ
“ Hai manusia”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
“ Hai orang – orang yang beriman”
 يَا أَهْلِ الْكِتَا
“ Hai Ahli kitab”

Dakwah mengajak manusia kembali kepada Allah adalah perkara besar. Dakwah termasuk kewajiban penting atas setiap individu muslim khususnya para ‘ulama.

“KOMIK NARUTO SHIPPUDEN” VS PAIN : Racun-racun ganas kesesatan Manga Naruto Uzumaki karya Masashi Kashimoto| Penyimpangan “Naruto Indonesia”, Naruto vs Sasuke, Game Naruto, Naruto versi online episode 46,48,478, 567,569, dll

Menyibak Misteri Kartun Naruto

Semua orang pasti kenal dan pernah mendengar Naruto. Naruto adalah salah satu film kartun animasi yang berasal dari manga(komik) Jepang yang ditulis oleh Masashi Kishimoto. Pertama kali ditayangkan dalam bentuk animasi alias kartun, 3 Oktober 2002 M melalui jaringan televisi Animax sampai banyak negara yang ikut menayangkannya, termasuk Indonesia.

Kartun Naruto bercerita seputar kehidupan tokoh utamanya yang bernama Naruto Uzumaki. Ayahnya bernama Namikaze Minato dari  Konohakagure (desa Konoha) menikah dengan ibu Naruto yang bernama Kushina Uzumaki, penduduk desa Uzukagure. Ayah Naruto seorang shinobi (ninja) sekaligus hokage (pemimpin) yang keempat bagi Konoha.

Konoha adalah desa terkuat dalam dunia Naruto, karena banyak melahirkan ninja hebat dan kuat. Mereka memiliki lima ninja legendaris, diantaranya ayah Naruto, Namikaze Minato. Mereka sering kali diserang oleh para ninja dari desa lainnya. Bahkan Konoha pernah diserang oleh biiju bernama “Kyuubi”.

(BAGUS) TEKS ASLI “KITAB KASYFUSY SYUBHAT” DISERTAI TERJEMAH BAHASA INDONESIA & KAJIAN MP3 KITAB KASYFU SYUBUHAT ( Menyingkap Kebatilan Argumen Penentang Tauhid) Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah



Silahkan Untuk Mendownload Kajian Ahlussunnah Tema Kasyfus Syubhat
Untuk mengetahui lebih lengkap pembahasan kitan Kasyfu Syubhat ini silahkan download kajian berikut  

Pemateri Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Lombok hafizhahullahu ta’ala
Pemateri Al-Ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahullahu ta’ala

Sabtu, 10 November 2012

Download Kajian IAIN Di Gugat





Silahkan Untuk Mendownload Kajiaan Ahlussunnah

Tema IAIN Di Gugat

Pemateri Al-Ustadz Muhammad Luqman Ba'abduh hafizhahullahu ta'ala


Download Kajian Sabar Dalam Kehidupan, Serta Ujian Bagi Orang Beriman (Al-Ustadz Luqman Ba'abduh)


Liku-liku kehidupan memang tak bisa dikalkulasi dengan hitungan. Negeri yang sedemikian makmurnya ini, terancam kekurangan sandang, pangan dan papan. Kegoncangan melanda di mana-mana. Kegelisahan menjadi selimut kehidupan yang tidak bisa ditanggalkan. Begitulah kalau krisis ekonomi sudah memakan korban. Seakan manusia telah lalai, bahwa segala yang terhampar di jagat raya ini ada Dzat yang mengaturnya. Apakah mereka tidak ingat Allah Ta’ala telah berfirman :

"Dan tidaklah yang melata di muka bumi ini melainkan Allahlah yang memberi rezkinya." (QS. Hud : 6)

Keyakinan yang mantap adalah bekal utama dalam menjalani asbab (usaha) mencari rezeki. Ar Rahman yang menjadikan dunia ini sebagai negeri imtihan (ujian), telah memberikan jalan keluar terhadap problem yang dihadapi manusia. Di antaranya:

Download Kajian Inilah Manhaj Pondok Pesantren Ngruki,Solo ( Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary )


Mengidentifikasi Ciri-ciri Teroris Khawarij

Kami merasa perlu untuk membahas secara singkat tentang ciri-ciri teroris Khawarij, karena kami melihat telah terjadi salah kaprah dalam hal ini. Kami memandang bahwa tidak tepat bila seseorang menilai orang lain sebagai teroris atau sebagai orang yang terkait dengan jaringan teroris, ataupun mencurigainya hanya berdasarkan dengan penampilan lahiriah (luar) semata.

Mengapa? Karena pada kenyataannya, para pelaku teror tersebut selalu berganti-ganti penampilan. Bahkan terkadang mereka cenderung memiliki penampilan yang akrab dengan masyarakat pada umumnya untuk menghilangkan jejak mereka. Sebagaimana yang terjadi pada Imam Samudra cs sebelum ditangkap. Sehingga, penampilan lahiriah mereka -baik penampilan ala masyarakat pada umumnya atau penampilan agamis- akan selalu ada yang menyerupai. Berdasarkan hal ini, penampilan lahiriah semata tidak bisa menjadi tolok ukur. Tatkala para teroris tersebut memakai topi pet, celana panjang (pantalon), kaos, serta mencukur jenggot, kita tidak bisa menjadikan hal-hal seperti ini sebagai ciri teroris. Tidak boleh bagi kita untuk menilai orang yang serupa dengan mereka dalam cara berpakaian ini sebagai anggota mereka.


Download Kajian Kitab Kasyfus Syubhat (Al-Ustadz Luqman Ba'abduh)


Barangkali di antara kita ada yang pernah melontarkan ucapan: “Kenapa sih kita membicarakan permasalahan tauhid terus? Apa tidak ada tema lain yang lebih menarik?” Bagi orang yang belum paham, bisa dimaklumi bila ia mengeluarkan kalimat seperti itu. Namun sangat tidak pantas bila kalimat tersebut muncul dari orang yang telah memahami pentingnya tauhid bagi seorang muslim, yang menunjukkan bahwa ia meremehkan permasalahan yang sangat dijunjung tinggi oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan para nabi ini.

Telah dimaklumi bahwa poros dakwah para nabi dan rasul, serta sebab mereka diutus adalah untuk tauhidullah (mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala). Sebagaimana telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam banyak firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُوْلٍ إِلاَّ نُوْحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُوْنِ

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelummu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan-Ku, maka beribadahlah kalian kepada-Ku.” (Al-Anbiya`: 25)

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya dan dia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah dan tidak ada sesembahan bagi kalian selain-Nya’.” (Al-A’raf: 59)

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوْدًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan kepada kaum ‘Ad Kami mengutus saudara mereka Hud dan dia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah dan kalian tidak memiliki sesembahan selain-Nya’.” (Al-A’raf: 65)

وَإِلَى ثَمُوْدَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan kepada Tsamud kami mengutus saudara mereka Shalih dan dia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, dan kalian tidak memiliki sesembahan selain-Nya’.” (Al-A’raf: 73)

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Dan kepada Madyan Kami utus saudara mereka Syu’aib dan dia berkata: ‘Hai kaumku sembahlah Allah, dan kalian tidak memiliki sesembahan selain-Nya’.” (Al-A’raf: 85)
Karena permasalahan tauhid pula Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan kitab-kitab, dan karenanya pula manusia diciptakan.

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah Allah yang Esa dan tidak ada sesembahan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.” (At-Taubah: 31)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Dari sini kita mengetahui bahwa:

(GRATIS & LENGKAP) DOWNLOAD ASLI MATAN “KITAB AL-USHUL TSALATSAH” DAN TERJEMAH BAHASA INDONESIA “KITAB TIGA LANDASAN UTAMA” Format .Doc, .Pdf,hp Java dan .CHM) | Karya As-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Rahimahullah



Download Aplikasi HP Matan dan Terjemah Indonesia Tsalatsatu Al-Ushul (aplikasi HP Java)

Gratis Download Kajian Kitab Ushul Tsalasah
Ushul Tsalasa 1 – Ustadz ‘Abdul Haq
Rukun Iman – Ustadz ‘Abdul Haq
Iman kepada Rasul – Ustadz ‘Abdul Haq
Iman kepada Hari akhir – Ustadz ‘Abdul Haq
Mengimani Wujud Allah – Ustadz ‘Abdul Haq
Mengimani nama dan sifat Allah – Ustadz ‘Abdul Haq
Iman kepada Takdir 1 – Ustadz ‘Abdul Haq
Iman kepada Takdir 2 – Ustadz ‘Abdul Haq
Iman kepada Takdir 3 – Ustadz ‘Abdul Haq
Ihsan – Ustadz ‘Abdul Haq
MP3 Dauroh Kajian Ushul Tsalatsah (Kajian “3 Landasan Utama”)
Ushul Tsalasa 1
Ushul Tsalasa 2
Ushul Tsalasa 3
Ushul Tsalasa 4
الأصول الثلاثة وأدلتها
لشيخ الإسلام  محمد بن عبدالوهاب
اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل:
الأولى: العلم، وهو معرفة الله، ومعرفة نبيه، ومعرفة دين الإسلام بالأدلة.
الثانية: العمل به.
الثالثة: الدعوة إليه.
الرابعة:الصبر على الأذى فيه.
والدليل قوله تعالى بسم الله الرحمن الرحيم: وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ [العصر:1-3].
قال الشافعي رحمه الله تعالى: ( لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم ).
وقال البخاري رحمه الله تعالى: ( باب العلم قبل القول والعمل، والدليل قوله تعالى: فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ [محمد:19]. فبدأ بالعلم قبل القول والعمل ).
اعلم رحمك الله أنه يجب على كل مسلم ومسلمة، تعلم هذه الثلاث مسائل، والعمل بهن:
الأولى: أن الله خلقنا ورزقنا ولم يتركنا هملاً، بل أرسل إلينا رسولاً، فمن أطاعه دخل الجنة، ومن عصاه دخل النار.
والدليل قوله تعالى: إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولاً شَاهِداً عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولاً (15) فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذاً وَبِيلاً [المزمل:16،15].
الثانية: أن الله لا يرضي أن يُشرك معه أحد في عبادته لا ملَك مقرب ولا نبي مرسل.
والدليل قوله تعالى: وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَداً [الجن:18].
الثالثه: أن من أطاع الرسول ووحّد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله، ولو كان أقرب قريب.
والدليل قوله تعالى: لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءهُمْ أَوْ أَبْنَاءهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [المجادلة:22].اعلم أرشدك الله لطاعته أن الحنيفية ملة إبراهيم، أن تعبد الله وحده مخلصاً له الدين، وبذلك أمر الله جميع الناس وخلقهم لها، كما قال تعالى: وَمَا خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعْبُدُوِن [الذاريات:56]، ومعنى ِيَعْبُدُوِن يوحدون، وأعظم ما أمر الله به: التوحيد وهو إفراد الله بالعبادة وأعظم ما نهى عنه: الشرك، وهو دعوة غيره معه.
والدليل قوله تعالى: وَاعْبُدُوا اللَّه وَلاَ تُشرِكُوا بِهِ شَيئاً [النساء:36].
فإذا قيل لك: ما الأصول الثلاثة التي يجب على الإنسان معرفتها؟
فقل: معرفة العبد ربه، ودينه، ونبيه محمد .
الأصل الأول: معرفة الرب:
فإذا قيل لك:من ربك؟ فقل: ربي الله الذي رباني وربى جميع العالمين بنعمه، وهو معبودي ليس لي معبود سواه.
والدليل قوله تعالى: الحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْن [الفاتحة:2] وكل من سوى الله عالم، وأن واحد من ذلك العالم.
فإذا قيل لك: بم عرفت ربك؟ فقل بآياته ومخلوقاته، ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر، ومن مخلوقاته السموات السبع، والأرضون السبع، ومن فيهن وما بينهما.
والدليل قوله تعالى: وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ [فصلت:37]، وقوله تعالى: إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثاً وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [الأعراف:54].
والرب هو: المعبود.
والدليل قوله تعالى: يَأيُّهَا النَّاسُ اعبُدُوا ربَّكُمُ الذَِّي خَلَقَكُم وَالذِّينَ مِن قَبلكُم لَعَلَّكُم تَتَّقُونَ(21) الّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرضَ فِرَاشًا وَالسَّمآءَ بِنآءً وَأنزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَاَءً فَأخرَجَ بِهِ مِن الثَّمراتِ رِزقًا لّكُم فَلاَ تَجعَلُواْ لَلَّهِ أندَادًا وَأنتُم تَعَلُمونَ [البقرة:22،21].
قال ابن كثير رحمه الله تعالى: ( الخالق لهذه الأشياء هو المستحق للعبادة ).
وأنواع العبادة التي أمر الله بها، مثل الإسلام، والإيمان، والإحسان، ومنه الدعاء، والخوف، والرجاء، والتوكل، والرغبة، والرهبة، والخشوع، والخشية، والإنابة، والاستعانة، والاستعاذة، والاستغاثة، والذبح، والنذر، وغير ذلك من أنواع العبادة التي أمر الله بها، كلها.
والدليل قوله تعالى: وَأنَّ المَسَاجِد لِلَّهِ فَلا تَدعُوا مَعَ اللَّهِ أحَداً [الجن:18].
فمن صرف منها شيئاً لغير الله فهو مشرك كافر.
والدليل قوله تعالى: وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ [المؤمنون:117].
وفي الحديث: { الدعاء مخ العبادة }.
والدليل قوله تعالى: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ [غافر:60].
ودليل الخوف قوله تعالى: فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ [آل عمران:175].
ودليل الرجاء قوله تعالى: فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً [الكهف:110].
ودليل التوكل قوله تعالى: وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ [المائدة:23]، وقوله: وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ [الطلاق:3].
ودليل الرغبة والرهبة والخشوع قوله تعالى: إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَباً وَرَهَباً وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ [الأنبياء:90].
ودليل الخشية قوله تعالى: فَلاَ تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي [البقرة:150].
ودليل الاستعانة قوله تعالى: قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ [الناس:1].
ودليل الاستغاثة قوله تعالى: إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ [الأنفال:9].
ودليل الذبح قوله تعالى: لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ [الأنعام:163].
ومن السنة { لعن الله من ذبح لغير الله }.
ودليل النذر قوله تعالى: يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْماً كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيراً [الإنسان:7].
الأصل الثاني: معرفة دين الإسلام بالإدلة
وهو الاستسلام لله بالتوحيد، والانقياد له بالطاعة، والبراءة من الشرك وأهله، وهو ثلاث مراتب: الإسلام، والإيمان، والإحسان، وكل مرتبة لها أركان.
المرتبة الأولى:
فأركان الإسلام خمسة: شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وإقام الصلاة، وإيتاء الزكاة، وصوم رمضان، وحج بيت الله الحرام.
فدليل الشهادة قوله تعالى: شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [آل عمران:18].
ومعناها: لا معبود بحق إلا الله وحده (لا إله) نافياً ما يعبد من دون الله.
(إلا الله) مثبتاً العبادة لله وحده لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكه.
وتفسيرها الذي يوضحها قوله تعالى: وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ (26) إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ (27) وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ [الزخرف:26-28].
وقوله تعالى: قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئاً وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ [آل عمران:64].
ودليل شهادة أن محمداً رسول الله قوله تعالى: لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ [التوبة:128].
ومعنى شهادة أن محمداً رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما نهى عنه وزجر، وأن لا يعبد الله إلا بما شرع.
ودليل الصلاة والزكاة وتفسير التوحيد قوله تعالى: وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ [البينة:5].
ودليل الصيام قوله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ َ [البقرة:183].
ودليل الحج قوله تعالى: ولِلَّهِ عَلَى الناسِ حِجُّ البَيِت مِنَ استَطَاعَ إلَيهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإنَّ الَّلهَ غَني عِن العَالَمِينَ [آل عمران:97].
المرتبة الثانية:
الإيمان: وهو بضع وسبعون شعبة، فأعلاها قول: لا إله إلا الله، وأدناها إماطة الأذى عن الطريق، والحياء شعبة من الإيمان.
وأركانه ستة: أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وبالقدر خيره شره.
والدليل على هذه الأركان الستة قوله تعالى: لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ [البقرة:177].
ودليل القدر قوله تعالى: إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ [القمر:49].
المرتبة الثالثة:
الإحسان: ركن واحد، وهو: ( أن تعبد الله كأنك تراه، فإن لم تكن تراه فإنه يراك ).
والدليل قوله تعالى: إِنَّ اللّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَواْ وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ [النحل:128]. وقوله تعالى: وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ (217) الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ (218) وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ (219) إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ [الشعراء:217 ـ220]. وقوله تعالى: وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِن قُرْآنٍ وَلاَ تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُوداً إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ [يونس:61]. والدليل من السنة: حديث جبريل المشهور عن عمر بن الخطاب قال: ( بينا نحن جلوس عند النبي إذ طلع علينا رجل شديد بياض الثياب، شديد سواد الشعر، لا يُرى عليه أثر السفر، ولا يعرفه منا أحد، فجلس إلى النبي فأسند ركبتيه إلى ركبتيه، ووضع كفيه على فخذيه، وقا ل: يا محمد أخبرني عن الإسلام. قال: { أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمداً رسول الله، وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة، وتصوم رمضان، وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا }. قال: صدقت. فعجبنا له يسأله ويصدقه. قال: أخبرني عن الإيمان. قال: { أن تؤمن بالله وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وبالقدر خيره وشره } قال: أخبرني عن الإحسان. قال: { أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك } قال أخبرني عن الساعة. قال: { ما المسؤول عنها بأعلم من السائل }. قال: أخبرني عن أماراتها. قال: { أن تلد الأمة ربتها، وأن ترى الحفاة العراة العالة رعاء الشاء يتطاولون في البنيان } قال: فمضى. فلبثنا ملياً. فقال: { يا عمر أتدرون من السائل } قلنا: الله ورسوله أعلم. قال: { هذا جبريل أتاكم يعلمكم أمر دينكم }.
الأصل الثالث: معرفة نبيكم عليه الصلاة والسلام
وهو محمد بن عبدالله بن عبدالمطلب بن هاشم. وهاشم من قريش، وقريش من العرب، والعرب من ذرية إسماعيل بن إبراهيم الخليل، عليه وعلى نبينا أفضل الصلاة والسلام. وله من العمر ثلاث وستون سنة، منها أربعون قبل النبوة، وثلاث وعشرون نبياً رسولاً. نبىء بـ اقْرَأْ وأرسل بـ الْمُدَّثِّرُ . وبلده مكة، بعثه الله بالنذارة عن الشرك، ويدعو إلى التوحيد. والدليل قوله تعالى: يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ [المدثر:1ـ7].
ومعنى قُمْ فَأَنذِرْ ينذر عن الشرك ويدعو إلى التوحيد وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ عظمه بالتوحيد وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ أي طهر أعمالك من الشرك وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ الرجز: الأصنام، وهجرها تركها وأهلها والبراءة منها وأهلها، أخذ على هذا عشر سنين يدعو إلى التوحيد، وبعد العشر عرج به إلى السماء، وفرضت عليه الصلوات الخمس، وصلى في مكة ثلاث سنين، وبعدها أمر بالهجرة إلى المدينة.
والهجرة فريضة على هذه الأمة من بلد الشرك إلى بلد الإسلام، وهي باقية إلى أن تقوم الساعة: والدليل قوله تعالى: إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلآئِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمْ قَالُواْ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأَرْضِ قَالْوَاْ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُواْ فِيهَا فَأُوْلَـئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءتْ مَصِيراً (97) إِلاَّ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاء وَالْوِلْدَانِ لاَ يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلاَ يَهْتَدُونَ سَبِيلاً (98) فَأُوْلَـئِكَ عَسَى اللّهُ أَن يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللّهُ عَفُوّاً غَفُوراً النساء:97 ـ99]. وقوله تعالى: يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ [العنكبوت:56].
قال البغوي رحمه الله: ( سبب نزول هذه الآية في المسلمين الذين في مكة لم يهاجروا، ناداهم الله باسم الإيمان ).
والدليل على الهجرة من السنة قوله : { لا تنقطع الهجرة حتى تنقطع التوبة، ولا تنقطع التوبة حتى تطلع الشمس من مغربها }.
فلما استقر في المدينة، أمر ببقية شرائع الإسلام، مثل الزكاة، والصوم، والحج، والأذان، والجهاد، والأمر بالمعروف، والنهي عن المنكر، وغير ذلك من شرائع الإسلام. أخذ على هذا عشر سنين، وبعدها توفي، صلاة الله وسلام عليه، ودينه باقٍ.
وهذا دينه لا خير إلا دله الأمة عليه، ولا شر إلا حذرها منه، والخير الذي دلها عليه: التوحيد، وجميع ما يحبه الله ويرضاه. والشر الذي حذرها منه: الشرك وجميع ما يكره الله ويأباه، بعثه الله إلى الناس كافة، وافترض طاعته على جميع الثقلين: الجن والإنس.
والدليل قوله تعالى: قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعاً [الأعراف:158]. وكمل الله به الدين.
والدليل قول تعالى: الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً [المائدة:3].
والدليل على موته قوله تعالى: إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ (30) ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عِندَ رَبِّكُمْ تَخْتَصِمُونَ [الزمر:31،30].
والناس إذا ماتوا يبعثون، والدليل قوله تعالى: مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى [طه:55]. وقوله تعالى: وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتاً (17) ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجاً [نوح:18،17]. وبعد البعث محاسبون ومجزيون بأعمالهم.
والدليل قول تعالى: وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاؤُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى [النجم:31]. ومن كذب بالبعث كفر.
والدليل قوله تعالى: زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَن لَّن يُبْعَثُوا قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ [التغابن:7]. وأرسل الله جميع الرسل مبشرين ومنذرين.
والدليل قوله تعالى: رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ [النساء:165] وأولهم نوح عليه السلام، وآخرهم محمد وهو خاتم النبيين.
والدليل على أن أولهم نوح قوله تعالى: إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ [النساء:163].
وكل أمة بعث الله إليها رسولاً من نوح إلى محمد يأمرهم بعبادة الله وحده، وينهاهم عن عبادة الطاغوت.
والدليل قوله تعالى: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ [النحل:36]. وافترض الله على جميع العباد الكفر بالطاغوت، والإيمان بالله.
قال ابن القيم رحمه الله: ( معنى الطاغوت ما تجاوز به العبد حده من معبود، أو متبوع، أو مطاع ).
والطواغيت كثيرون، رؤوسهم خمسة: إبليس لعنه الله، ومن عبد وهو راض، ومن دعا الناس إلى عبادة نفسه، ومن ادعى شيئاً من علم الغيب، ومن حكم بغير ما أنزل الله.
والدليل قوله تعالى: لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْد مِن الْغَي فَمَن يَكْفُرْ بالطَّاغُوت وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انَفِصَام لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [البقرة:256]. وهذا هو معنى ( لا إله إلا الله ).
وفي الحديث: { رأس الأمر الإسلام، وعموده الصلاة، وذروة سنامه الجهاد في سبيل الله }.
والله أعلم… تمت الأصول الثلاثة.

أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مباركاً اينما كنت، وأن يجعلك ممن إذا أعطي شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذا أذنب استغفر، فإن هؤلاء الثلاث عنوان السعادة.
*****

Matan Ushul Tsalatsah (Tiga Landasan Dalam Agama )

Imam Al Mujadid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab
Pendahuluan

Tentang Orang yang Mapan dan Belum Ingin Menikah & Tentang Menolak Lamaran

Tanya:
Ada pertanyaan tentang hukum laki-laki yang sudah mapan, tetapi tidak mau menikah juga, apakah ada artikel terkait?

Jawab :
Laki-laki yang memiliki kemampuan/kemapanan secara materi dan fisik, tetapi tidak menikah, hukumnya terbagi dua:

SEBURUK-BURUK TEMAN BERGAUL




Dalam hadits disebutkan:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memerhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 7406, 7407)

Lisan sering dilepaskan begitu saja tanpa penjagaan sehingga keluar darinya kalimat-kalimat yang membinasakan pengucapnya. Ghibah, namimah, dusta, mengumpat, mencela dan teman-temannya, biasa terucap. Terasa ringan tanpa beban, seakan tiada balasan yang akan diperoleh. Membicarakan cacat/cela seseorang, menjatuhkan kehormatan seorang muslim, seakan jadi santapan lezat bagi yang namanya lisan. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya:

Beberapa Kisah Yang Menyedihkan


Keadaan pribadi Nabi juga sangat menyedihkan. Apalagi kaum musyrikin betul-betul dendam kepada beliau. Beberapa prajurit musyrikin berusaha mendekati beliau, ada yang berhasil memecahkan topi baja beliau sehingga melukai kepala dan menembus pipi beliau serta mematahkan gigi seri beliau.

Al-Imam Al-Bukhari  menceritakan dalam Shahih-nya:
بَابُ {لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ} قَالَ حُمَيْدٌ وَثَابِتٌ عَنْ أَنَسٍ: شُجَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالَ: كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ. فَنَزَلَتْ {لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ}
“Bab firman Allah l:
لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka..).1 Humaid dan Tsabit berkata, dari Anas bahwasanya Nabi luka berdarah kepala beliau pada perang Uhud, lalu berkata: “Bagaimana mungkin beruntung satu kaum yang melukai Nabi mereka. Maka turunlah ayat: لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu).”
Ibnu Hajar  mengatakan (Al-Fath, 7/457):

Adapun hadits (riwayat) Humaid (Ath-Thawil), disambungkan sanadnya oleh Al-Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan An-Nasa`i dari beberapa jalan dari Humaid. Ibnu Ishaq sendiri dalam kitab Al-Maghazi mengatakan: “Telah bercerita kepada saya Humaid Ath-Thawil dari Anas, katanya: “Pecah gigi seri Nabi pada waktu perang Uhud, dan wajah beliau luka sehingga mengalirlah darah di wajah beliau. Mulailah beliau mengusap darah yang mengalir di wajahnya seraya berkata:
كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ خَضَّبُوا وَجْهَ نَبِيِّهِمْ بِالدَّمِ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ
(Bagaimana beruntung suatu kaum yang menodai wajah Nabi mereka dengan darah, padahal dia mengajak mereka kembali kepada Rabb mereka ), maka turunlah ayat (128 surat Ali ‘Imran)).”

Adapun hadits (riwayat) Tsabit disambungkan sanadnya oleh Al-Imam Muslim dari riwayat Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas bahwa Nabi berkata pada peristiwa Uhud dalam keadaan darah mengalir di wajah beliau:
كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ. فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ {لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ}
“Bagaimana beruntung suatu kaum yang melukai Nabi mereka dan memecahkan gigi serinya, padahal-dia mengajak mereka kepada Allah. Maka ‘Allah menurunkan firman-Nya: لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْءٌ (Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu)”.

Kemudian Ibnu Hajar menukilkan riwayat Ibnu Hisyam dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri bahwasanya ‘Utbah bin Abi Waqqash-lah yang memecahkan gigi dan bibir Rasulullah bagian bawah, sedangkan ‘Abdullah bin Syihab Az-Zuhri melukai kening Nabi , dan ‘Abdullah bin Qami`ah melukai pelipis beliau sehingga lingkar besi topi baja beliau menembus wajah beliau.
Ibnu Ishaq sebagaimana dinukil Ibnu Hajar menceritakan ucapan Sa’d bin Abi Waqqash yang mengatakan: “Belum pernah saya berambisi membunuh seseorang sama sekali sebagaimana ambisi saya untuk membunuh saudara saya sendiri ‘Utbah karena perlakuannya terhadap Nabi pada waktu Uhud.”

Jumat, 09 November 2012

Untukmu Yang Bertanya Tentang Tatacara Wudhu Yang Benar



air

Oleh : Abu Ibrahim Abdullah bin Mudakir

Mengetahui bagaimana tatacara wudhu yang benar adalah sebuah perkara yang sangat penting dikarenakan wudhu adalah ibadah yang sangat agung yang merupakan syarat sah ibadah shalat seseorang. Disamping itu wudhu mempunyai keutamaan yang sangat banyak dan diantara keutamaan wudhu yang datang penyebutannya didalam sebuah hadist yaitu dimana Rasulullah shallallahu aalaihi wasallam bersabda :
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُأَوْ فَيُسْبِغُالْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
“ Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa : “ Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”
Dalam sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Muslim)

yang hal ini dicapai dengan niat yang ikhlas dan berwudhu dengan benar, oleh karena itu penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana tatacara wudhu yang benar.

Syarat-syarat Wudhu

Salafy Harus Waspada Dari ‘Penyusup’!!!

Salafy Harus Waspada Dari ‘Penyusup’!!!


بسم الله الرحمن الرحيم

Ibnu ‘Asyur رحمه الله menegaskan: “Sudah merupakan garis yang telah dituliskan, bahwa bangsa manusia itu perlu bergaul dan hidup bersama orang lain, dia tidak bisa hidup sendirian. Ketika dia hidup bersama orang lain maka dia akan mendapati masing-masing orang memiliki arah dan tujuan yang berbeda-beda, sehingga timbullah perbedaan dan perselisihan.”

Termasuk dari bangsa manusia tersebut adalah salafy. Merekapun manusia biasa, tidak lepas dari ancaman perbedaan dan perselisihan. Dan jalan keluarnya dari perselisihan yang terjadi dalam masyarakat yang heterogen ini adalah seperti yang dijelaskan pula oleh Ibnu ‘Asyur رحمه الله: “Untuk menghidari dan menyelesaikan perbedaan serta perselisihan dalam masyarakat bangsa manusia adalah dengan mencontoh masyarakat Rasul صلى الله عليه وسلم. Semua permasalahan dalam masyarakat beliau diselesaikan dengan acuan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan menerima dan tunduk pada ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka akan selesai semua permasalahan.”

Adapun kita yang sudah jauh dari zaman masyarakat Rasul, maka selain mengacu pada ketentuan Al-Qur’an dan As-Sunnah kita memerlukan hal yang ketiga, yaitu berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman ulama salaf (ulama terdahulu). Dan untuk bisa mendapatkan pemahaman ini maka kita harus mengambil bimbingan dari para ulama yang jernih ilmunya mengabdikan diri secara murni untuk agama Allah تعالى, bukan ulama partai atau kelompok sempalan, bukan pula ulama pengejar kepentingan dunia. Inilah pesan dari Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam. Agar perbedaan segera selesai makalah harus kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan bimbingan para ulama sunnah.

Sebab perselisihan yang harus diwaspadai oleh para salafiyin

Bagi Yang Ingin Belajar Di Dar Al-Hadits Ma’bar

Bagi Yang Ingin Belajar Di Dar Al-Hadits Ma’bar

بسم الله الرحمن الرحيم

Karena banyak sekali yang bertanya kepada kami bagaimana caranya untuk bisa belajar ke Dar Al-Hadits Ma’bar, maka kami kedepankan sajian ini sebelum Profil Ma’had Dar Al-Hadits Ma’bar 03.

Pertama, keutamaan yang paling tinggi pada masa yang penuh fitnah ini adalah menuntut ilmu, sehingga seseorang bisa menjaga dirinya dari keterjerumusan. Kepada siapapun yang sudah memiliki semangat untuk menuntut ilmu maka, pertama: bersyukurlah kita kepada Allah تعالى yang telah memberikan semangat yang baik dan jarang didapat ini, kedua: ahlan wa sahlan kepada antum yang mau belajar ke sini, semoga Allah تعالى memudahkan proses dan perjalanan antum ke sini, ketiga: kami hanya berpesan jangan sia-siakan semangat belajar ini, dan hendaknya kita belajar sebaik mungkin dimanapun tempat selama kepada sumber yang benar.


Profil Ma’had Dar Al-Hadits Ma’bar, Yaman 02

Kenali Ma’had Dar Al-Hadits Ma’bar, Yaman 02


بسم الله الرحمين الرحيم

Setelah kita membahas letak Dar Al-Hadits Ma’bar, iklim, bangunan ma’had (secara umum) dan pengamanannya, maka tiba saatnya membahas kapan ma’had ini dibangun, bagaimana kondisi awal mula dakwah, dan bagaimana bangunan ma’had secara khusus.

1. Kapan Ma’had ini dibangun
Sebagaimana yang disebutkan oleh Asy-Syaikh sendiri dan juga banyak sumber yang lain, bahwa ma’had ini dibangun kira-kira sebelum 25 tahun yang lalu. Sekitar sebelum 25 tahun yang lalu seorang tokoh dari Ma’bar, Jahran, Dhamar, Yaman ini yang bernama Asy-Syaikh Ahmad Al-Banush رحمه الله datang kepada Asy-Syaikh Muqbil رحمه الله dan meminta agar beliau mau menunjuk salah seorang muridnya untuk merintis dakwah salafiyah di Ma’bar. Asy-Syaikh Ahmad رحمه الله telah membangun sebuah masjid untuk itu. Dan waktu itu, Ma’bar adalah daerah yang dipenuhi dengan pemikiran syi’ah, dan tiada dakwah sunnah yang terpancar di sana.
Maka jatuhlah pilihan Asy-Syaikh Muqbil رحمه الله pada seseorang yang sudah teruji kesabaran dan kepemimpinannya, yaitu Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam حفظه الله. Dan Asy-Syaikh Al-Imam pun bersedia dengan bertawakkal meminta tolong kepada Allah تعالى kemudian dengan restu dan doa dari gurunya.

Semenjak saat itu mulailah cahaya sunnah yang suci dipancarkan kepada masyarakat Ma’bar. Melalui Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam حفظه الله dan melalui Asy-Syaikh Ahmad Al-Banush (semoga Allah تعالى membalas jasa beliau dan menempatkan beliau di surga-Nya yang paling tinggi).

2. Kondisi awal mula Dakwah di Ma’bar
Pada permulaan dakwah ini di Ma’bar, Asy-Syaikh Al-Imam hanya memiliki 7 orang murid, padahal ukuran masjid waktu itu mampu menampung kira-kira 2000-2500 orang. Tapi memang inilah perkara yang dikehendaki Allah تعالى, sehingga terlihat bagaimana kredibilitas seorang Asy-Syaikh Muhammad Al-Imam ini.

Dan Asy-Syaikh pun tidak luput dari para pendengki dari kaum syi’ah, karena dengan cahaya sunnah inilah jadi terbongkar borok-borok mereka. Salah satu contohnya seperti diceritakan oleh Asy-Syaikh sendiri, waktu itu kedengkian sekelompok orang syi’ah terhadap beliau dan dakwah salafiyah sedang memuncak, maka merekapun membuat fitnah dan menuduh Asy-Syaikh dengan tuduhan dusta, sehingga pemerintahpun terhasut untuk mempersempit ruang gerak beliau. Namun, Allah تعالى menjadikan qadhi untuk daerah Ma’bar atau Dzamar membuka mata untuk mendengar apa yang dibawa oleh Asy-Syaikh. Maka qadhi mengundang syi’ah dan mengajukan keluhannya, dan juga mengundang Asy-Syaikh untuk menjelaskan.
Setelah Asy-Syaikh menjelaskan sesuai dengan ajaran dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Selasa, 06 November 2012

(BAGUS) BACAAN, DO’A DAN CARA “MENTALQIN MAYIT” : Adab talkin mayit, Artikel/makalah bacaan talqin mayit, Do’a talqin mayit/jenazah, Talqin untuk yang sudah meninggal/sudah dikubur


Adab-Adab Mentalqin Orang Hendak Meninggal

Tidak ada yang mengingkari bahwa manusia tanpa terkecuali pasti akan mengalami kematian. Sebelum kematian tersebut terjadi, manusia akan mengalami saat terakhir yang sangat menentukan baik tidaknya kehidupan setelahnya. Inilah sakaratul maut yang setiap jiwa takut menghadapinya. Di saat inilah manusia di antara dua kemungkinan, keselamatan atau kebinasaan. Saat itu pula syaithan akan bekerja keras demi mengajak manusia untuk menjadi teman mereka di neraka kelak, naudzu billah min dzalika. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkan iman kita dalam menghadapi ujian ini. Amin.


Hanan Bahanan Overload Bag.2



Pendusta Besar Itu Bernama…

Hanan Bahanan Abu Abdurrahman

(Menjawab Tuduhan Keji Sang Facebooker)

new1a

 12 Dzulhijjah 1433 H/ 28 Oktober 2012 M
Pada edisi update ini (28/10/’12) kami ubah dan coret beberapa hal untuk menyesuaikan dengan  redaksional tuduhan terhadap kemampuan saya dalam melakukan pembobolan e-mail (yang memiliki password/kata atau nomor sandi yang bersifat sangat rahasia dan tidak akan diberitahukan kepada orang lain tentang password-nya itu .. PENCURIAN SEGALA ISINYA…Yakni dengan cara mencuri data yang ada di dalam email). Pada edisi ini juga kami tambahkan tuntutan syari’at yang diwajibkan atasnya serta tantangan terbuka terhadap sang facebooker Pendusta Besar Penipu Umat ini beserta segenap kru pendukung perselingkuhannya untuk membuktikan tuduhannya.
……
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (٥٨)
Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(QS. Al Ahzab:58)
Firman Allah Ta’ala:
 (إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ (١٥
“(ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”
(QS. An-Nuur:15)
Firman Allah Ta’ala:
 (وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ (٣٠
“Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. (QS. Al-Hajj:30)
Dari Bilal bin Harits Al-Muzaniy Radhiyallahu ‘Anhu beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى, مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ؛ فَيَكْتُبُ اللهُ لَهُ بِهَا رِضْوَانَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى, مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ؛ يَكْتُبُ اللهُ عَلَيْهِ بِهَا سَخَطَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
“Sesungguhnya seseorang benar-benar ada yang mengatakan sebuah kata yang diridhai Allah yang dia tidak menyangka sejauh mana akibat ucapan itu, maka Allah menulis keridhaan-Nya bagi orang tersebut sampai Hari Kiamat dengan sebab ucapan itu, dan sungguh seseorang benar-benar ada yang mengatakan sebuah kata yang dimurkai Allah yang dia tidak menyangka sejauh mana akibat ucapan itu, maka Allah menulis kemurkaan-Nya atas orang tersebut sampai Hari Kiamat dengan sebab ucapan itu.”
(HR. Malik, Ahmad, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim. Asy-Syaikh Al-Albany menilainya shahih di dalam Shahih Al-Jami’ (1619), As-Silsilah Ash-Shahihah (888), dan di dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib (2878))
Adalah hal yang sangat menyedihkan bahwa penyakit untuk menimpakan tuduhan-tuduhan dusta, jahat dan zhalim malah menjangkiti segelintir orang yang dipanggil sebagai guru agama. Sosok-sosok yang semestinya memberikan contoh teladan dalam menghasung umat untuk menjauhi akhlaq-akhlaq tercela dan nista berbalik memelopori, memprovokasi dan melemparkan tuduhan-tuduhan dusta dan zhalim tanpa ditakar dan ditimbang tanpa merasa takut bahwa segenap perbuatan jahatnya tersebut takkan pernah terluput dari pengawasan dan pembalasan dari Allah Yang Maha Besar.
فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (٩٩)
Tiada yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang-orang yang merugi (QS. Al A’raf:99)

Minggu, 28 Oktober 2012

TANYA JAWAB DENGAN AL-USTADZ DZULQARNAIN M. SUNUSI ( Rodja dan At-Turots)




TANYA JAWAB DENGAN AL-USTADZ DZULQARNAIN M. SUNUSI TENTANGHUKUM MENDENGARKAN RADIO ATAU MENONTON TV RODJA dan HUKUM MENGAMBIL ILMU DARI DAI IHYA AT-TURATS 

HUKUM MENDENGARKAN RADIO ATAU MENONTON TV RODJA

Tanya:
Bolehkah kita mendengarkan Radio atau melihat TV Rodja, yang mana mereka berdakwah mirip atau sama dengan Ahlussunnah??

Jawab:


Sabtu, 27 Oktober 2012

Merokok : Bikin Hidup Lebih Nggak Karuan


No-Smoking_op_800x573-300x215

Di negeri Indonesiakita tercinta ini, merokok bukan hal yang dilarang. Bebas mau merokok di mana saja, kapan saja. Iklan rokok -meskipun tidak boleh mempertontonkan adegan menghisap rokok secara eksplisit- berjamur di mana-mana. Akibatnya, tak sedikit dari pemuda Indonesia ini yang terkena imbasnya. Tercatat, 80 % perokok Indonesiaberusia kurang dari 19 tahun berdasarkan survei ITCN (International Tobacco Control Network) pada tahun 2007. Sedangkan, dalam survei yang sama, perokok umur 5-9 tahun mendapatkan persentase 0,4 persen pada tahun 2001 dan meningkat menjadi 1,8 persen pada tahun 2004. (Antara News)

Pemerintah sebenarnya telah mengambil langkah untuk mengatasi hal ini. Namun, nampaknya langkah pemerintah ini kurang greget. Tulisan
 yang wajib tercantum dalam bungkus dan iklan rokok, justru menjadi kotak pandora yang semakin membuat penasaran benar nggak sih peringatan itu, Fulan si tetangga sehat-sehat saja kok, mbah-mbah yang di kampung sebelah juga masih bugar meski nggak absen menghisap rokok. Tambah lagi bombardir iklan yang terpampang di ruas jalan-jalan utama. Nah lo…

Fakta Berbicara
Jangan buru-buru berbaik sangka dengan rokok. Mungkin dilihat sekilas tidak ada pengaruhnya. Tapi, bukti penelitian yang dilakukan 10 tahun terakhir, 50 persen perokok meninggal akibat kecanduan. Demikian pula, kematian disebabkan kanker, penyakit jantung dan pernafasan kronis adalah penyebab utama kematian akibat rokok. (Survei Sosial Ekonomi Nasional: 2004).
Penyakit yang ditimbulkan oleh asap mematikan ini tak lepas dari kandungan-kandungannya yang beracun. Bayangkan, 4000 zat racun masuk ke dalam tubuh dengan sekali isap. Di antara zat racun itu adalah

Jumat, 26 Oktober 2012

Download Rekaman Kajian Mustholah Hadits Bersama Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray


Download rekaman kajian Mustholah Hadits membahas Kitab Mustholah Al Hadits karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin -rahimahullaah- bersama Al-Ustadz Sofyan Chalid Ruray -hafizhahullaah- (pengajar Ma’had An-Nur Al-Atsari Banjarsari, Ciamis).


Download E-Book Mustholah Al-Hadits (مصطلح الحديث) format PDF 6.64 MB

sumber:http://rizkytulus.wordpress.com/2012/10/26/rekaman-kajian-mustholah-hadits-ust-sofyan/#more-2177




No Judul Ukuran (MB)
1a
Muqaddimah bag. 1
4.7
1b
Muqaddimah bag. 2
8.0
2a
Hadits Mutawatir bag. 1
3.3
2b
Hadits Mutawatir bag. 2
3.3
3
Hadits Ahad
3.2
4
Hadits Shahih, Hasan, dan Dha’if
6.5
5
Makna dan Syarat-Syarat Hadits Shahih
7.7
6
Sanad yang Terputus
5.5
7
Tadlis dan Irsal Khafi
5.4
8
Al-Idraj (Mudraj)
3.7
9
Az-Ziyadah fil Hadits (Tambahan dalam Hadits)
2.9
10
Hadits Mudhtharib (Goncang)
6.8
11
Hukum dan Syarat Meringkas Hadits
4.1
12
Meriwayatkan Hadits dengan Makna
3.4
13a
Hadits Maudhu’ (Palsu) bag. 1
5.5
13b
Hadits Maudhu’ (Palsu) bag. 2
6.6
14
Al-Jarhu
6.7
15
At-Ta’dil
4.3
16
Pertentangan Antara Al-Jarhu wat Ta’dil
3.6
"Dipersilakan untuk menyebarluaskan isi dari blog ini untuk kepentingan da'wah, tanpa tujuan komersil dengan menyertakan URL sumber. Jazakumullohu khairan."